Jumat, 13 Oktober 2017

Wisata Sejarah Monumen Bandung Lautan Api

Masih hafalkah anda dengan lagu wajib yang berjudul “Halo-Halo Bandung” ? kini saatnya kita berwisata sambil menyanyikan lagu halo-halo Bandung. Mengenang kembali kejadian heroik pada tahun 1946 di kota kembang ini patut dilakukan mengingat banyak pengorbanan yang dilakukan untuk mempertahankan Bandung agar tidak dikuasai oleh para penjajah. Cara paling seru mengenangnya adalah dengan berkunjung ke Monumen Bandung Lautan Api yang ada di Bandung. Monumen ini terletak di tengah lapangan tega lega Bandung, setiap bulan Maret lapangan ini selalu diramaikan oleh para pengunjung yang ingin mengingat dan mengenang jasa-jasa para pahlawan Bandung.  Andapun dapat ikut bergabung dengan mereka sekaligus menghabiskan liburan anda di Bandung.


Monumen Bandung lautan api memiliki ketinggian sekitar 45 meter  dengan 9 bidang sisi. Monumen ini didirikan untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan api dimana pada saat itu terjadi pembumihngusann Bandung Selatan. Monumen tertinggi di Bandung ini merupakan lambang dari keberanian dan sejarah kota Bandung , pertistiwa yang merupakan wujud dari pembelaan rakyat terhadap penjajahan Belanda pada saat itu. Dimana pihak Belanda memberikan peringatan terhadap rakyat bandung untuk meninggalkan kota bandung karena Belanda akan segera menguasai kota Bandung sepenuhnya.

Namun karena ketidakrelaan TRI (Tentara Republik Indonesia) yang pada saat itu dipimpin oleh Mohammad Toha memutuskan untuk membumihanguskan Bandung sehingga Belanda tidak dapat menjadikan bandung sebagai wilayah dan markas strategi militer mereka. Asap hitam yang menebal mulai timbul dengan pekat menyelimuti kota Bandung, seluruh listrikpun mati, hal tersebut membuat tentara sekutu marah dan mulai melakukan penyerangan.

Para penjajahpun mulai menyerang bandung dan terjadilah pertempuran yang sengit, terutama di daerah dayeuh kolot , bagian selatan Bandung. Di Dayeuh Kolot tersebut terdapat gudang mesiu yang besar milik sekutu, TRI berniat untuk menghancurkan gudang mesiu tersebut, dengan granat tangan Mohammad toha dan Ramdan berhasil meledakan gudang mesiu tersebut sehingga terjadilah ledakan besar, kedua pahlawan tersebut ikut hangus dilalap si jago merah dan gugur di medan perang. Kurang lebih pada pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan api terus berkobar dan Bandung pun berubah menjadi lautan api. Kemudian rakyat dan TRI melakukan perlawanan secara geriliya dari luar Bandung. Peristiwa heroik inilah yang menyebabkan terciptanya lagu “Hallo-Hallo Bandung”.

Istilah Bandung Lautan Api muncul di harian suara merdeka pada tanggal 26 Maret 1946, seorang wartawan bernama Atje Bastaman menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunugn leutik tidak jauh dari Pameungpeuk, Garut, dari tempat tersebut wartawan ini melihat dengan jelas memerahnya Bandung dari mulai Cicadas sampai ke Cimindy. Kemudian bastaman menulis berita dengan judul “ Bandoeng Djadi Laoetan Api, akan tetapi karena kurangnya ruang untuk tulisan judul tersebut, ia kemudian mengurangi redaksinya menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.

Luar biasa perlawanan yang mengesankan dan penuh keberanian ini layak kita apresiasi, karena kegigihan para pahlawan tersebut kita benar-benar memiliki Bandung seutuhnya sampai saat ini. Di sekeliling monumen ini banyak sarana yang dijadikan sebagai tempat rekreasi dan kegiatan hiburan lainnya, disini juga sering dijadikan tempat konser musik. Masuk dan menikmati gagahnya monumen Bandung lautan api ini tidak dikenakan biaya alias gratis, jadi datanglah sesuka hati anda dan nikmati pengalaman berwisata sejarah di kota Bandung.


EmoticonEmoticon